Membangun Komunitas Pembaca, Sebuah Hutang Budaya
Berkomunitas rupanya telah menjadi kebutuhan penting bagi warga Jakarta. Setiap Minggu, misalnya, harian KOMPAS mengulas berbagai jenis komunitas: komunitas gitar listrik, komunitas VW, komunitas Karl May, komunitas komik, dan sebagainya. Begitu juga stasiun televisi, seperti O-Channel, punya program khusus menampilkan komunitas-komunitas serupa.
Dari komunitas-komunitas itu bisa lahir berbagai rupa produk budaya: kegiatan kesenian, diskusi-diskusi, suvenir dan atribut-atribut identitas, dan, ya, buku. Bahkan komunitas-komunitas yang sebermula bersifat maya –berangkat dari milis-milis atau lingkaran “gaul” sebuah blog, misalnya– bisa tumbuh menghasilkan berbagai rupa kegiatan konkret. Dan dari yang konkret pula, terjadi penguatan di alam maya –dan begitu seterusnya.
Di samping komunitas-komunitas khas yang terasa baru tersebut, kita telah sejak lama akrab dengan berbagai bentuk komunitas tradisional. Sebut saja, kelompok-kelompok pengajian, atau kelompok-kelompok nongkrong. Mungkin memang sebuah keniscayaan, ketika hidup begitu terpilah dan terpisah, tumbuhlah kebutuhan untuk mencari kebersamaan.
MP Book Point lahir dari sebuah kepercayaan bahwa “komunitas” adalah fakta. Dan adalah fakta pula, bahwa seringkali kebutuhan-kebutuhan dalam komunitas tak tertangkap oleh lembaga-lembaga besar. Misalkan toko buku. Tak selamanya bentuk-bentuk superstore mampu menjangkau kebutuhan-kebutuhan kelompok pembaca yang khusus. Untuk itulah, dalam area yang tak terlalu besar (sekitar 1000 m2 untuk area toko), MP Book Point menyeleksi buku-buku yang ada agar (1) sesuai kebutuhan, dan (2) sesuai visi kami (cerdas, terbuka, etis).
Juga, tak selamanya para pencari buku hanya mencari buku. Sering juga mereka mencari suasana, di mana sebuah “budaya buku” bisa berkembang. Suasana yang terbangun dari adanya suasana browsing buku yang nyaman, ketersediaan akses informasi (internet, hot spot), sarana kegiatan indoor dan outdoor, dan berbagai kegiatan yang mendukung aura kebersamaan sesama peminat atau penggemar buku. Sebaliknya, melalui berbagai kegiatan yang ada di area MP Book Point, kegiatan nongkrong pun bisa “beraroma buku”.
Dengan kata lain, MP Book Point adalah toko buku berbasis komunitas. Dalam arti yang sangat lentur, komunitas termaksud tak lain adalah komunitas pembaca. Yang utama, adalah “pembaca buku”. Tapi juga: “pembaca film”, “pembaca musik”, “pembaca budaya populer”, dan “pembaca apa saja”. Semua baur, kumpul, dan bersinergi. Lalu pada akhirnya, semoga, menimbulkan sebuah energi budaya yang memancarkan manfaat.
MP Book Point lahir dan tumbuh dalam kesadaran akan sebuah hutang budaya. Yakni, bagaimana membangun budaya membaca yang solid dan mengakar, yang kukuh dan lestari. Walau kecil, semoga itu menjadi urun dalam cita-cita lama kita: mencerdaskan kehidupan bangsa.
MP BOOK POINT: OASE BUKU DI JAKARTA SELATAN
Toko ini mulai dibuka secara tak penuh (soft opening) pada 8 April 2006, dan dibuka kepada publik luas mulai 29 April 2009. Di samping menjual buku dari berbagai penerbit umum (mencakup buku-buku sastra, populer, bisnis, novel, sampai bacaan anak dan komik), MP Book Point juga menjadi tempat bagi Beranda Komunitas Mizan –sebuah fasilitasi bagi berbagai kegiatan komunitas di MP Book Point. Fasilitasi itu mencakup kafe, ruangan serba guna, internet (termasuk hotspot) gratis, panggung terbuka di arena outdoor, dan perpustakaan. Fasilitas-fasilitas ini terbuka untuk dimanfaatkan oleh komunitas mana pun.
Beranda Komunitas Mizan sendiri, sebagai wadah dan fasilitator berbagai kegiatan komunitas di MP Book Point, punya program rutin: MP Weekend Forum setiap Jumat malam, light music live setiap Sabtu, dan Ahad Ceria! setiap Minggu pagi; juga pemutaran film tematik dan diskusi bulanan yang dikelola oleh berbagai komunitas di Jakarta. Beranda Komunitas Mizan juga terbuka bagi semua penerbit atau lembaga untuk mengadakan jumpa pers, peluncuran buku atau produk lain, pelatihan, rapat, dan sebagainya, di area MP Book Point.
|